Terkadang orang tua terpesona oleh prestasi besar macam juara kelas. Padahal prestasi-prestasi kecil yang dilakukan anak sehari-hari jika direspon dengan baik akan menentukan karakter anak di masa depan. Alhasil, orangtua sering tidak seimbang dalam memberikan respon kepada anak. Kita kerap mengkritik perilaku negarifnya saja tetapi lupa memberikan pujian bagi perilaku positifnya. Padahal pujina sekecil apapun sangatlah berarti bagi anak.
Pujian bukanlah kata-kata indah tanpa makna. Pujian harus dapat dijadikan rambu bagi anak dalam berperilaku. Pujian seharusnya dapat menguatkan perilaku positif dan menghindarkan dari perilaku negatif. Bila anak diberi pujian saat mau membereskan mainannya sendiri, maka hal itu akan membuat anak terbiasa hidup rapi sekaligus untuk tidak membiarkan mainan atau benda lainnya berantakan. Intinya, satu pujian dapat memberikan dua manfaat sekaligus
Pujian layaknya vitamin yang dapat membangkitkan semangat anak. Bila ada kemajuan yang didapat/ dilakukan maka anak akan berusaha memacu dirinya untuk lebih baik atau minimal mempertahankannya.
Bila anak terbiasa makan sendiri di usia batita meski banyak bantuan, lalu orang tua terus memotivasinya dengan pujian maka di usia selanjutnya bantuan orangtua semakin diminimalkan bahkan di usia sekolah anak sudah dapat merapikan peralatan makan dan minumnya bahkan mencucinya sendiri.
Pujian juga membuat anak merasa dihargai. Ia merasa setiap perilakunya bermakna di mata orangtua. Apakah orangtua akan menyunggingkan senyum atau membelalakkan mata, semuanya tergantung pada apa yang akan dilakukan. Tentunya ia akan berusaha mendapatkan apresiasi ketimbang mendapatkan konsekuensi.
Meskipun baik, pujian hendaknya diberikan proporsional. Mengapa? Bukankah apa pun yang berlebihan dapat memberikan efek yang negative? Dalam hal ini, dosis penghargaan yang berlebihan dapat membuat anak tumbuh menjadi sosok yang gila pujian. Akibatnya, ia hanya akan melakukan sesuatu bila mendapatkan penghargaan atau pujian. Bila tidak, ia akan mogok.
Itulah mengapa, agar proporsional. Pastikan pujian yang diberikan focus dan sesuai dengan keadaan.’Wah, hebat ya kamu bisa makna sendiri’. Bila ada hal yang perlu diperbaiki, ungkapkan ‘ Tapi lain kali, sayurnya dihabiskan,ya!’.
Fokuskan pujian pada kemajuan perilaku anak. Jika apa yang dilakukan sudah menjadi hal biasa, rasanya tak perlu dipuji lagi bukan? Dengan berfokus pada kemajuannya, secara bertahap anak akan meningkatkan kualitas diri dan kemampuannya.
Juga, pastikan pujian itu tidak membuat anak menjadi besar kepala dan tidak kritis terhadap dirinya. “Kalau soal menyanyi, kamu pokoknya paling hebat, tak ada yang menandingi”, begitu misalnya. Anak akan sombong. Lantas bagaimana kalau ternyata ada anak lain yang bisa bernyanyi dengan lebih baik, bukankah ia akan kecewa? Jadi sekali lagi pujian adalah untuk memotivasi bukannya menjerumuskan.
Pujian pun sebaiknya diberikan dengan menyesuaikan karakter anak. Ada anak yang senang dipuji di depan banyak orang, tetapi tidak sedikit yang justru malu. Ada yang senang dipuji dengan kata-kata seperti bagus, baik, hebat, pintar, dll. Tetapi ada juga yang lebih suka pujian dalam bentuk sentuhan seperti mmeluk anak, mengacungkan jempol, menepuk pundak, mengusap kepala, memberikan senyum dll. Bahkan bisa juga melalui tulisan untuk anak yang sudah bisa membaca, orangtua bisa menuliskan lewat sms, note kecil yang disisipkan dan cara lainnya. Pujian itu sangat berkesan dan akan selalu terpatri dalam diri anak.
Mari para orang tua kita mulai memberikan pujian yang bermakna untuk anak !
Diambil dan disesuaikan dari Potential-Kumon
